Indonesia Tak Perlu Move On

#Dompet Dhuafa #Indonesia MOVE On www.dompetdhuafa.orgABA

INDONESIA  TAK PERLU MOVE ON

MUKADDIMAH

 

Suatu hal yang mengherankan ketika mendengar para saudagar Arab datang ke Indonesia lalu tiba-tiba berdecak kagum, menyatakan “Ini surga “. Ada yang bilang, di Indonesia tongkat ditanam bisa disulap jadi makanan. Kekayaan hasil bumi pertiwi mulai dari lautan, pertanian, dan timbunan barang tambangnya, memposisikan Indonesia pantas dijuluki sebagai daratan surga, sungguh sebuah anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Memasuki era globalisasi, rakyat Indonesia seakan dibuat bimbang, buktikan saja, apakah kita benar-benar yakin bahwa negara ini kaya? Mari kita menoleh sebentar, di sebelah ujung pulau Indonesia sana daratan Papua diguncang mesin-mesin berat canggih buatan jepang.

Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Amien Rais, menyebutkan bahwa “Tambang Freeport perusahaan Amerika Serikat di Papua, merupakan tambang emas dan tembaga terbesar di dunia, namun Indonesia tidak banyak mengambil manfaat dari tambang itu. Minyak bumi dan gas alam di Aceh pun nasibnya sama. Tanker berisi migas sering lalu lalang di pelabuhan Meulaboh, Aceh untuk kebutuhan asing. Padahal di Aceh ada pabrik pupuk yang tutup karena tidak kunjung mendapat pasokan gas alam. Apakah kita nikmati hasilnya saat ini? ujar Amien.” (Tribun News: 06 April 2014)

Merebaknya kabar tentang tambang Freeport, diisukan bahwa proyek tambang besar-besaran tersebut bukan hanya berisi emas dan tembaga, namun isi bumi pulau Papua tersebut juga mengandung unsur uranium. Sekilo uranium saja dapat menerangi Benua Amerika dalam jangka waktu dua puluh tahun.

Sementara apa yang dilakukan oleh bangsa ini? Tak ayal, jika mayoritas anak negeri hanya mengangguk patuh bak kerbau yang dicocok hidungnya.

Krisis yang melanda bangsa Indonesia, menjadi awal terpuruknya sebuah negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Dari awal 1998, sejak era kepemimpinan Soeharto mulai terlihat kebusukannya karena memendam kasus KKN. Indonesia terus mengalami kemerosotan, terutama dalam bidang ekonomi. Nilai tukar semakin melemah, inflasi tak terkendali, juga pertumbuhan ekonomi yang kurang berkembang di negara ini.

Setelah Presiden Soeharto turun dan lalu digantikan wakilnya Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie. Satu tahun Lima bulan masa pemerintahan BJ.Habibie, kedudukan beliau diruntuhkan setelah melepas Timor Timur. Melalui proses pemilu dadakan, akhirnya terpilihlah ibu Megawati soekarno putri sebagai presiden wanita pertama Indonesia. Belum lama memimpin ternyata ibu sudah banyak tingkah. Aset warisan ayahnya, Presiden pertama RI Bung Karno, ia jual. Satelit indosat dijual ke singapura, tanker pertamina pun ikut tergadai.

Masa ini sangat kental aroma krisisnya, mulai dari harga sembako melonjak , dan harga bahan bakar merangkak naik. Rupanya rakyat Indonesia juga tidak bisa bertahan lama-lama dengan keadaan sensitif ini, sebab bersinggungan dengan bahan bakar merupakan masalah paling utama bagi penduduk Indonesia.

Bangsa ini terbiasa nyenyak dengan alunan BBM murah pada masa pemerintahan Soeharto, sehingga di masa pemerintahan presiden-presiden berikutnya, siapa saja yang tidak bisa menurunkan harga BBM menjadi lebih ekonomis, ia pasti akan ditarik mundur.

Pemilu tahun 2004, terpilihlah Soesilo Bambang Yudoyono sebagai presiden, pemerintahannya berlangsung dua periode, lumayan banyak gebrakan baru, seperti merumpunnya beasiswa pendidikan, jaminan kesehatan penduduk, dan subsidi bbm yang dialihkan untuk bidang pendidikan, nasib guru honor yang tidak “dinomor sepuluhkan” lagi. Semua itu adalah bentuk pencapaian kinarja SBY di masa pemerintahnnya. Meski BBM merangkak naik melebihi kebijakan presiden-presiden sebelumnya, SBY setidaknya sudah bisa menutup opini masyarakat, biar hidup serba mahal asal anak bisa sekolah. Ini wujud prestasinya. Dana BOS yang diberikan kepada sekolah-sekolah SD-SMP, adanya pencanangan wajib belajar 9 tahun, itu juga menjadi prestasi SBY di masa pemerintahannya.

Sejatinya, Indonesia tidak perlu berpayah untuk menjadi bangsa yang terpandang di mata internasional. Cukup berdayakan anak bangsanya. Pendidikan, hanya itu yang dapat di lakukan untuk bangsa yang masih merangkak maju ini. Peningkatan mutu pendidikan anak bangsa itu harus di nomor wahid-kan. Otak-otak menengah hingga jenius yang miskin, harus disekolahkan, jangan karena miskin lantas serta merta orang tua putus asa lalu berhentikan anaknya dari sekolah, perlu disadari mereka adalah asset berharga bangsa.

Bukankah Allah sudah mengingatkan:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Adapun makna dari lafaz ayat yang digaris bawahi “Allah akan menaikkan derajat orang yang beriman diantaramu dan mereka yang diberi ilmu itu, beberapa derajat.”

Sehubungan akan dijelangnya pemilu presiden, Indonesia harus lebih cerdas memilih, jangan hanya menimbang dari aspek senioritas, tua, atau muda semata, tapi pandanglah yang berilmu tinggi. Jangan mau jadi orang yang hobi move on, loh kok? Benar, lihat saja bukankah selama ini nasib Indonesia itu selalu jalan di tempat, atau pindah tapi juga tidak mengubah keadaan? Itu semua akibat persepsi kita yang sudah akut diracuni kata-kata move on sebagai pengiring yel-yel kampanye.

MENGENAL ISTILAH MOVE ON

Mengutip pengertian move on dari Kamus John M.Echols move on dimaknai sebagai usaha perpindahan dari satu daerah memasuki daerah lain. Jika ditafsirkan maka proses usaha seperti itu merupakan sebuah aksi yang sama terjadi pada satu level.

Pantaslah selama ini Indonesia hanya berada di zona yang sama, selalu berada di bawah taraf hidup yang jauh dari kata layak, hanya kalangan konglomerat yang mampu merasakan indahnya mendengkur nyenyak. Pantaslah selama ini Indonesia berkali-kali ditolak berobat hingga berujung maut. Pantaslah selama ini pencurian, penjarahan, perampokan masih meraja lela, mewabah penyakit masyarakat. Pantaslah Indonesia selalu dilanda bencana, berendam dalam banjir kemiskinan, kemelaratan, kebobrokan moral, semua karena Indonesia berpijak di satu zona, zona yang sama, yaitu lebih asyik mendengar seruan ayo move on!

Bukankan itu yang menestapakan nasib bangsa ini sejak ditinggal penjajah? Meski para kompeni , dan algojo romusha telah angkat kaki dari bumi pertiwi, namun cakar budayanya , aturan konstitusi negaranya masih mencengkram, dalam nadi tubuh bangsa ini. Kita sebagai bangsa Indonesia yang ingin maju, masih saja mendewakan aturan-aturan warisan kompeni, yang kenyataannya kurang menampar jera wajah tikus-tikus berdasi, penggerat uang rakyat. Yang remaja pun tidak mau disebut ketinggalan, mereka berusaha melek terhadap budaya penjajah. Ironis, kini penjajah dibayar datang padahal dulu dihadang dengan tombak ladang.

FAKTOR KEMUNDURAN INDONESIA

Gemah ripah loh jinawi adalah semboyan untuk Indonesia yang masih mengalami kemunduran. Kemunduran moral dalam beberapa dekade ini teramat meresahkan. Pertumbuhan tingkat kelahiran yang meroket, tidak dibarengi dengan kesadaran untuk menjadi insan terdidik terutama karakternya. Banyak anak, banyak rezki, ungkapan ini bisa jadi khayalan belaka apabila anggaran pendidikan hanya dipatok 20% saja.

Bedakan dengan Finlandia, demi terwujudnya negara yang makmur dan bermartabat, pemerintah mereka menganggarkan dana 5,9 miliar per-kapita. Leo pahkin, konselor pendidikan dari Badan Pendidikan Nasional Finlandia,terus memacu mutu Pendidikan di Finlandia yang dia pandang sebagai aset kemajuan bangsa.”Kami menanam investasi yang besar di bidang pendidikan dan pelatihan agar bias mencetak tenaga ahli dan terampil yang kelak menghasilkan inovasi.” (Tempo.co.id-06 April 2014 09:00 Pm).

Negara kita bukanlah negara miskin seperti Ethiopia, justru anak bangsalah yang banyak dilanda kemiskinan pendidikan. Lantas, apakah karena faktor taraf hidup, anak yang terlahir di bumi pertiwi akan dibesarkan untuk menjadi manusia yang bermental koruptor?

Bangsa ini sudah terlalu lama hidup dalam kebutaan ilmu. Sampai-sampai ada anekdot yang mengkultuskan kalo nggak kaya jangan sekolah!. Saat Habibie berbekal kecerdasannya sedang berproses mengubah wajah kelam bangsa, namun rakyat buru-buru merobohkan kursinya. Budaya yang telah menjadi darah daging anak Indonesia ini sepertinya bernama pesimis dan merasa lebih cerdas dari orang yang dijamin cerdas oleh dunia internasional.

Move on aksi inilah yang terus menghantui bangsa. Beberapa waktu belakangan, masyarakat tampak sepakat terhadap istilah ini. Aksi dan reaksi bergerak di satu zona yang sama. Memilah-milih model presiden dengan cara pandang yang sama, bergaya hidup di tengah zaman yang penuh estafet pun masih memakai “gaya lama” (baca: royal).

Memandang bahwa pendidikan formal itu tidak penting, yang penting hanya pengalaman-dan pengalaman, fenomena ini yang paling menjebloskan anak bangsa ke jurang kebobrokan moral. Akibatnya muncul pemimpin bangsa yang ragu beretika, pengusaha yang lihai memonopoli, publik figur seperti boneka melenggok di layar kaca. Semua itu karena kebiaasaan move on yang telah ter-setting dalam persepsi anak bangsa, yakni menjadi bangsa yang bergerak seperti “pocong”, bergerak di satu zona.

Move On No but Move Up Yes!

John M.Echols dalam kamusnya membubuhkan arti untuk sebuah kata kerja Move Up, yaitu: Bergerak, pindah, dari satu level ke level berikutnya. Kata kerja ini diartikan sebagai proses pergerakan ke arah yang lebih terarah. Ke zona satu tingkat, di atas lantai zona yang kita pernah gagal di atasnya. Berkenaan dengan move up ini, pepatah arab sudah pernah menegur

” Lâ yaldaghu al- mu’minu Fi hujrin wâhidin marrataini” yang memiliki arti bahwa seorang mukmin itu tidak boleh jatuh (gagal) di lubang yang sama hingga dua kali. Ungkapan ini terkesan begitu mengkhawatirkan seorang mukmin, agar jangan sampai gagal berulang kali di tempat yang sama. Sudah tentu seseorang akan terjatuh di lubang yang sama apabila ia melangkah pada jalur yang persis sama terdapat lubang di sisi kanan kiri atau tengahnya. Maka dari itu, kita diingatkan untuk melangkah menjauh dari jalur yang berlubang tadi menuju jalur alternatif aman. Kita disarankan untuk melangkah dari jenjang 1 naik ke jenjang kedua, bukan tetap meloncat-loncat di tangga pertama.

PENUTUP

Demi tercapainya cita-cita menjadi bangsa yang bermartabat, kita perlu bercermin sejenak pada keberhasilan negara tetangga, contoh saja jepang, negara sakura itu bangkit dari keadaan porak poranda setelah dihujani bom. Singapura negara yang kecil, namun anak bangsanya dididik sedemikian rupa untuk menjadi pakar di bidangnya masing-masing. Indonesia jangan mau terus-terusan kecolongan ketika anak bangsa betah menetap di negara maju, karena mendapat jaminan biaya pendidikan dan diberi kebutuhan hidup yang layak. Selamat pagi Indonesia, Move Up!

 

Advertisements